Minggu, 24 Januari 2010

BY FAIR

“Dunia pendidikan sudah menjadi bagian yang inheren dari mekanisme politik, birokrasi dan mobilisasi. Bersekolah bukanlah mencari ilmu (sekedar menghafalkan pengetahuan tertentu), bukanlah mengolah kreativitas (bahkan guru terkadang menjadi dekreativitas), dan bukan pula menggali dan mengembangkan kepribadian. (bersekolah adalah penyeragaman atau penghapusan
unikum manusia)
Emha Ainun Najib

1. Perguruan tinggi dan Perannya di tengah Masyarakat
Perguruan tinggi sebagai pelaksana pendidikan tinggi dengan tiga tugas pokok yang tercantum dalam TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI yaitu;
1. Pendidikan dan pengajaran
2. Penelitian
3. Pengabdian pada masyarakat
Pendidikan adalah dunia perubahan terus-menerus, bukan menghapal teori-teori saja tapi untuk berteori sesuai dengan perubahan sosial sehingga ia harus membentuk konstruksi pemikiran anak didik yang dinamis, terbuka dan merdeka guna mengembangkan kamampuan kreativitasnya menghadapi tantangan perubahan hidup.
Perguruan tinggi secara akademis teoritis formal adalah terminal terakhir bagi setiap insan akademis dalam mempersiapkan dirinya sebelum terjun ke masyarakat untuk mengabdikan ilmu dan keterampilannya. Sudah sewajarnya perguruan tinggi membekali mereka dengan seperangkat ilmu dan keterampilan yang bermakna untuk diimplementasikan dalam kenyataan sosial. Untuk itu setiap perguruan tinggi dituntut tanggap terhadap perkembangan yang terjadi di dunia internasional sehingga lulusan perguruan tinggi lebih reponsif terhadap perkembangan pada era global. Perguruan tinggi adalah komunitas yang didedikasikan untuk menguasai, mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan serta menjadi motivator, dan fasilitator bagi masyarakat yang dilayaninya.
Perguruan tinggi sebagai salah satu lembaga pendidikan mempunyai peran strategis dalam upaya menyiapkan SDM yang berkualitas. Posisinya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempetegas peran perguruan tinggi untuk secara terus menerus memberikan konstribusi bagi kepentingan pembangunan bangsa.
Dengan demikian upaya-upaya mengarah pada peningkatan mutu akademik merupakan suatu kemestian. Berbagai usaha mesti dilakukan demi peningkatan mutu, misalnya, dosen sebagai salah satu posisi strategis yang menempati posisi vital dalam peningkatan mutu lulusan, dipandang perlu untuk senantiasa ditingkatkan profesionalismenya. Yang kedua adalah proses belajar mengajar di perguruan tinggi yang selama ini didominasi pola Maintenance Learning perlu ada transformasi menuju pola Innovatife Learning.
Dunia perguruan tinggi di era global saat ini mesti melakukan transformasi, yaitu merubah karakter kuliah, dari kuliah tempat menghafal menjadi kuliah tempat belajar berpikir kreatif dan berinovasi. Perubahan watak dari perkuliahan yang bersifat instruktif menjadi kuliah yang bernuangsa dialogis. Transformasi ini adalah suatu keniscayaan mengingat masalah yang disodorkan di era globalisasi lebih menuntut penyelesaian oleh seorang kreatif dan innovatif. Tanpa perguruan tinggi yang berkualitas maka akan sulit melahirkan bangsa Indonesia yang lebih ulet, gigih, tangguh, disiplin, cerdas, kreatif, innovatif serta memiliki keunggulan kompetitif yang dituntut di era globalisasi.
Adapun tugas dari pada perguruan tinggi adalah:
1. Knowledge–based society atau pusat pengetahuan.
2. Human capital formation (membentuk manusia besar/berbudaya)
3. Values formation (Pembentukan Nilai)
Adapun tantangan yang kini dihadapi oleh perguruan tinggi dalam perspektif lokal dan tantangan global adalah:
1. Melahirkan sumber daya manusia yang relevan dengan tuntutan stakeholders.
2. Pengembangkan IPTEK yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan
3. Melahirkan lulusan kualitas yang berkualitas.
Perguruan tinggi memiliki peran besar dalam pembentukan karakter yang memiliki ciri khas sebagai sebuah bangsa. Oleh sebab itu perguruan tinggi harus menjadi kiblat bagi sebagian besar elemen bangsa sebagai intitusi yang mandiri dan independen. Kelahiran perguruan tinggi sebagai intitusi pendidikan, mewadahi kebutuhan akan penelitian terhadap segala bentuk dan tanda-tanda alam dalam kerangka azas ilmiah. Konteks pendidikan tinggi telah mengejewantahkan tiga aspek azas ilmiah dalam tiga arah pembentukan karakter perguruan tinggi, yaitu: Pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masayarakat.
Dalam TAP MPR RI No. IV/MPR/1974 dicantumkan peranan perguruan tinggi dalam era pembangunan khususnya dalam pembinaan kepada mahasiswa. Perguruan Tinggi (kampus) adalah benteng penjaga sains dan peradaban, sebagai titik pusat produksi dan pengembangan kebudayaan. Karenanya kampus tidak boleh mati dari pergolakan intelektual dan pelestarian nilai-nilai. Terlebih lagi, kampus adalah komunitas peneliti-peneliti dan calon pendidik. Warna keilmiahan dan corak kehidupan yang bermoral tinggi merupakan identitas masyarakat yang dicita-citakan. Perguruan tinggi (kampus idealnya berperan utama dalam perkembangan etika dan estetika untuk memperkuat peran dalam pengembangan intelek serta keahlian). Inilah sebenarnya hakikat tujuan pengembangan pendidikan perguruan tinggi (idealnya). Perguruan tinggi merupakan pasar tempat transaksi ilmu pengetahuan.
Dalam pandangan masyarakat awan, kampus adalah tempat berkumpulnya anak-anak bangsa yang sedang berproses menempuh pendidikan untuk melahirkan kecerdasan intelektual dalam menata masa depannya. Suatu rutinitas yang dipenuhi kesibukan, seperti sibuk belajar, sibuk diskusi, sibuk membaca dan kegiatan-kegiatan intelektual lainnya. Pandangan ini benar adanya, karena kampus memang tempat mencetak intelektual muda, yang diharapkan bisa membawa dirinya, keluarganya, masyarakatnya, lingkungannya, dan bangsanya menuju alam pencerahan.
Kampus bukanlah sebuah pabrik yang hanya melahirkan pekerja-pekerja saja, tetapi kita berharap bahwa kampus sebagai sumber atau memproduksi orang–orang cerdas, kreatif, pemikir, inovatif, sehingga dapat berdaya guna di tengah masyarakat.




2. Definisi Mahasiswa

Mahasiswa tidak sama dengan orang kursus

Mahasiswa adalah sebuah identitas yang unik dan istimewa. Keistimewaannya karena dalam dirinya terdapat dua dimensi. Yaitu dimensi intelektual dan dimensi kepemudaan. Dimensi yang memungkinkannya untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dimensi kepemudaan, yang memungkinkan untuk independen, idealis dan mampu menentukan pilihan mereka untuk menjadi kekuatan moral karena watak yang belum terkotori oleh berbagai kepentingan kelompok, serta menopang keberanian untuk mengadakan pembaharuan. Sedangkan keintelektualan menjadi modal bagi peran penting mereka dalam perubahan sosial, mengingat watak kritis dan kemampuan untuk memikirkan dan membuat karya-karya besar dan berharga untuk masyarakat dan masa depan peradaban manusia. Masa dimana hasrat untuk mencari pengetahuan setinggi-tingginya sangat memungkinkan, karena sifat energiknya. Masa dimana ia tidak mudah untuk dimanfaatkan oleh kelompok tertentu demi kepentingan sesaat, tetapi lebih memihak pada nilai-nilai universal seperti kemanusiaan, keadilan dan kebenaran. Tentu juga kepentingan rakyat.
Masa yang paling indah adalah masa SMA, kata sebagian orang yang mengekspresikan masa mudanya. Ungkapan berkonotasi indah ini akan dibenarkan oleh hampir setiap orang yang pernah melewatinya. Ini berarti bahwa calon-calon mahasiswa, masa-masa indahnya sudah berlalu dan kini terbayang dipelupuk mata gerbang kampus yang akan menawarkan kehidupan yang penuh dengan dinamika. Penuh dengan proses pendewasaan berpikir untuk menuju kematangan jiwa dan kematangan intelektual dalam meraih mada depan yang lebih bermakna.
Mahasiswa kata yang tak asing lagi ditelinga para pendengarnya. Kata yang sangat diagung-agungkan ketika menjadi salah elemen pelopor tumbangnya orde baru. Lantas apa sih pengertian atau defenisi dari “kata Mahasiswa itu:
Mahasiswa secera sederhana bisa berasal dari dua kata, yaitu ”Maha dan Siswa”; Maha artinya besar dan siswa artinya orang-orang yang menempuh pendidikan atau sementara belajar pada sebuah jenjang pendidikan. Jadi kalau kedua kata ini digabungkan maka mahasiswa bisa kita artikan sebagai orang–orang besar yang sedang belajar pada jenjang pendidikan tertentu secara formal atau bisa diartikan sebagai siswa yang besar. Sehingga kalau kita simpulkan, mahasiswa adalah siswa yang sedang menempuh proses pendidikan secara formal pada jenjang perndidikan yang biasa disebut pergruruan tinggi.
Penjelasan tentang apa itu mahasiswa dapat kita lihat pada penjelasan berikut ini. Mahasiswa adalah salah satu elemen dari anggota civitas akademika, yang sekaligus merupakan bagian dari keseluruhan kaum pemuda. Mereka mewujudkan suatu generasi yang cukup memilik kekuatan untuk bergerak maju membawa nasib masa depan bangsanya. Sedikit secara sugestif dapat dikatak bahwa mahasiswa merupakan golongan manusia dari anggota masayarakat yang telah dewasa dalam artian sosio-individual dan psiko-biologis. Oleh karena itu dalam konteks kehidupan berkebangsaan mahasiswa akan merupakan agen atau penadahdarin suatu proses regenerasi.
Atau dengan kata lain mahasiswa adalah kader pembangunan dan calon-calon pemimpin yang pada pundaknya menyandang beban amanat obyektif yang harus diakui bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang selalu aktif dalam menopang segala perjuangan menuju perombakan, perubahan dan pembaharuan dari nilai-nilai sosial budaya masyarakat kearah yang lebih baik. Dalam strata sosial, mahasiswa termasuk dalam kelas menengah atau middle class.

3. Tipe-tipe Mahasiswa
Mahasiswa secara umum tentunya diharapkan dapat berperan dan memberikan konstribusi yang berarti bagi pembangunan kemajuan bangsa. Namun dari gambaran dan pengamatan dalam dunia kemahasiswaan tidak semua mahasiswa secara personal dapat memahami peran dan tanggung jawabnya sebagai masyarakat kampus yang intelektual. Hal ini dapat kita llihat dan bandingkan berdasarkan pada tipe-tipe mahasiswa diantaranya:

Menurut Ruslan Ismail Mage, ada tiga tipe mahasiswa yang sering ditemui dikampus dengan berbagai keanekaragamannya.
a. Tipe mahasiswa yang datang ke kampus belajar setelah itu bergegas pulang. Tipe mahasiswa seperti ini, dari segi kemampuan akademik biasanya lebih menonjol, karena waktunya hanya benar-benar dipergunakan untuk belajar, baik dikampus maupun ditempat tinggalnya. Ia lebih cenderung menghabiskan waktunya di rumah membaca buku, dibanding harus jalan-jalan yang tidak ada manfaatnya. Sehingga jangan ditanya bagaimana perkembangan kampusnya atau menanyakan aktivitas teman-temannya sesama mahasiswa. Dalam banyak hal tipe mahasiswa seperti ini biasanya ketinggalan berbagai macam informasi penting yang berhubungan dengan dunia kampus dan biasanya tipe mahasiwa seperti kurang pergaulan.
b. Tipe mahasiswa yang datang ke kampus belajar, setelah itu tinggal ngerumpi. Tipe mahasiswa seperti ini, biasanya dari segi akademik biasanya tidak terlalu menonjol atau sedang-sedang saja. Kelebihannya adalah dari segi pergaulan, ia terbilang dinamis dan fleksibel. Sehingga terlihat lebih banyak ngobrol santai bersama teman-temannya. Tetapi topik pembicaraan biasanya tidak mengarah kepada persolan kampus, kuliah atau masalah sosial politik, ekonomi dan lain-lain tetapi biasanya lebih banyak negrumpinya.
c. Tipe mahasiswa yang datang ke kampus belajar setelah itu tinggal berorganisasi. Tipe seperti ini dari segi akademik biasanya tergolong sedang-sedang saja. Tidak terlalu pintar dan tidak juga ketinggalan dibanding teman-temannya yang lain. Kendatipun prestasi akademiknya biasanya tidak terlalu menonjol, tetapi keaktifannya berorganisasi mampu mendidik mentalnya menjadi mahasiswa yang penuh percaya diri. Sehingga dengan konsepnya yang ideal, idenya yang komunikatif serta wawasannya yang luas, ia bisa menjelma menjadi mahasiswa yang cerdas, walaupun realitasnya tidak didukung oleh IP yang tinggi. Sebab menjadi mahasiswa yang cerdas tidak mutlak dengan IP yang tinggi!!!!!!!!!.

Sedangkan menurut Maman Mahayana, membagi mahasiswa kedalam berbagai tipe berdasakan sosiol cultural, tingkatan ekonomi dan motivasi.
a. Mahasiswa pekerja, yaitu mahasiswa yang datang dari pedesaan dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan kuliahnya dengan cepat. Pada umumnya mereka menjadi mahasiswa yang baik, dan ekonomi adalah persoalan utamanya
b. Mahasiswa salon, yaitu mahasiswa yang berasal dari perkotaan dan dari keluarga yang berada. Kuliah hanya menjadi tempat untuk memamerkan kekayaan, bukan untuk mencari ilmu, pada umumnya mereka hanya memilih kegiatan-kegiatan yang sifatnya rekreatif.
c. Mahasiswa anak mami, yaitu mahasiswa yang berasal dari kelas menengah ke atas. Mereka umumnya bersungguh-sungguh untuk kuliah dan sangat phobi atau alergi untuk mengikuti kegiatan-kegiatan non akademik, kerja mereka hanya kuliah, keperpustakaan dan belajar dikamar.
d. Mahasiswa jalan pintas, mereka berasal dari ekonomi yang beragam. Tujuannya hanya untuk mendapatkan ijazah dan gelar akademik, sebelum atau sesudah nama. Makanya mereka tidak segan-segan untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai demi sebuah gelar.
e. Mahasiswa underdog, yaitu mahasiswa yang berasal dari keluarga pas-pasan. Mereka ingin mengubah nasib melalui jalur pendidikan, dan tak jarang mereka juga aktif di lembaga kemahasiswaan.
f. Mahasiswa unggulan, yaitu mahasiswa yang pada umumnya dari keluarga terpelajar dengan ekonomi cukup memadai. Mereka memanfaatkan masa kuliahnya untuk menempa diri dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah dan keagamaan dan aktif di lembaga kemahasiswaan.
Sementara pengklasifikasian mahasiswa berdasarkan tingkat kesadarannya dalam membaca realitas sekitarnya dapat dikategorikan menjadi 3 bahagian, yaitu:
a. Mahasiswa yang memiliki kesadaran magis, yaitu mahasiswa yang selalu pasrah dan menyerah pada keadaan, tidak peduli dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Dan seluruh potensi dirinya hanya diperuntukkan untuk kegiatan akademiknya saja.
b. Mahasiswa yang memiliki kesadaran naïf, yaitu mahasiswa yang hampir sama dengan golongan pertama tetapi pada tipe ini biasanya memiliki sedikit rasa simpati pada keadaan yang melingkupinya.
c. Mahasiswa yang memiliki kesadaran kritis, yaitu mahasiswa yang selalu merasa resah, gelisah ketika melihat ketimpangan-ketimpangan dan penindasan yang terjadi disekitarnya dan senantiasa berbuat sesuatu demi kepentingan umum.
Selain tipe-tipe yang telah dijelaskan diatas, tentunya masih ada tipe-tipe mahasiswa yang mewarnai dunia kampus hari ini berdasarkan sudut pandang yang kita buat. Keberagaman tipe yang ada adalah warna dan dinamika tersendiri yang mestinya mampu diolah dan diberdayakan sedemikian rupa sehingga peran, fungsi dan tanggung jawab mahasiswa sebagai kaum intelektual bisa berjalan sebagaimana mestinya.

4. Peran, Fungsi dan Tanggung Jawab Mahasiswa sebagai Kaum Intelektual dalam Proses Transformasi Sosial
Salah satu hal yang perlu disyukuri adalah dunia mahasiswa sebagai suatu lapisan masyarakat yang dalam jajaran startifikasi sosial memiliki kelas khusus, dan kalau diperbincangkan, senantiasa menjadi tema menarik dan aktual. Betapa tidak, ketika orang menyentuh tema pergerakan transformasi sosial, maka sadar atau tidak, langsung berkorelasi dengan dinamika kehidupan mahasiswa. Sehingga dalam konteks kesejarahan, setiap perubahan yang terjadi pada setiap negara di belahan dunia, mahasiswa akan terdokumentasi dengan tinta emas. Dari rangkain sejarah di dunia, kita bisa saksikan” gerakan pembaharuan cina, revolusi Islam Iran” bahkan dalam konteks ke Indonesiaan sendiri kita saksikan dengan jelas sepanjang sejarah, dari era ke era. Era 1908, 1928, 1945 dan 1966 sampai era reformasi hingga kini.
Dari kenyataan tersebut, maka sangat beralasan dan syah–syah saja, bila kemudian mahasiswa mendapat sanjungan heroik: Mahasiswa adalah hati nurani rakyat, mahasiswa sebagai agen of change (agen yang senantiasa menjadi pendorong lahirnya perubahan), sosial of control (senantiasa melakukan kontrol sosial atas segala bentuk kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintah yang bertentangan dengan kehendak rakyat), moral force atau kekuatan moral, mahasiswa adalah pemimpin dimasa depan, dan masih banyak gelar dan sanjungan yang memang patut disandangya. Sehingga mungkin tidak berlebihan kalau dikatakan, bahwa mahasiswa ibarat dewa penyelamat yang berasaskan kebenaran, keadilan dan kejujuran.
Yang menarik untuk ditelaah, dari fenomena mahasiswa seperti itu adalah kesukarelaan untuk berkorban disertai semangat memperjuangkan idealisme. Mahasiswa berjuang bukan karena adanya kepentingan tertentu, apalagi kepentingan pribadi, kendatipun beresiko tinggi buat dirinya, karena ia sadar dan faham apa yang dilakukannya adalah tanggung jawabnya, sehingga bagaimanapun juga dia memiliki beban moril. Artinya sifat idealisme seorang mahasiswa adalah berpihak pada kaum lemah dan tertindas (mustadha’fin).
Pemahaman atas eksistensi seperti inilah menjadikan mahasiswa mempunyai motivasi dan kemandirian, yang sekaligus hal ini merupakan pengejewatahan serta indikasi langsung atas sikap independensi yang melekat pada mahasiswa. Sehingga secara gamblang, mungkin saja kita dapat menarik suatu hipotesis yang sederhana, bahwa keberhasilan dan ketegaran peran dari rangkaian angkatan tersebut diatas, diilhami oleh kecekatan secara professional menterjemahkan sikap independensinya dalam meresponi realitas zamannya.
Dinamika atas romantisme dan idealisme mahasiswa yang begitu respon terhadap panggilan untuk bekerja keras, berkorban dalam menghadapi tantangan, kebrutalan sistem, penyelewengan dan seterusnya, tidak lebih dari pada pengejewantahan sikap independensi. Dari pemaknaan inilah, mahasiswa sering menyandang gelar sebagai aset bangsa. Adapun pengertian mahasiswa sebagai asset bangsa dapat di jabarkan dengan ciri-ciri sebagai berikut ;
1. Mahasiswa memiliki manfaat dimasa datang. Semboyan Student Today Leader Tomorrow adalah sebagian dari salah satu bentuk manfaat mahasiswa dimasa datang.
2. Bangsa sebagai suatu institusi, dapat memperoleh manfaat yang besar dari keberadaan mahasiswa. Potensi intelektualitas mahasiswa dapat meningkatkan martabat bangsa, setidak-tidaknya ketika dalam proses pembelajaran dimana interaksi mahasiswa dan lingkungan sosial masyarakat terjalin dapat memberikan manfaat yang cukup berarti bagi kemajuan bangsa/masyarakat.
3. Pada asumsi dimana proses intelektualitas yang dialami oleh mahasiswa dengan mendudukannya sebagai suatu bentuk investasi berjalan secara wajar, maka mahasiswa mampu memberikan karya-karya terbaik untuk bangsa, dan bangsa berhak memiliki manfaat atas karya yang dimaksud.
Salah satu alasan yang menjadikan mahasiswa dikategorikan sebagai asset bangsa karena mahasiswa memiliki potensi yang lebih dibandingkan dengan elemen bangsa yang lain. Mahasiswa adalah insan-insan yang cerdas, memiliki pemahaman, pengetahuan dan wawasan yang luas, kesemuanya itu tidak lahir dengan sendirinya tetapi melalui sebuah proses yang panjang yang dialaminya dalam dunia kampus. Dengan tingkat pengetahuan, wawasan dan kecerdasan yang tinggi merupakan modal besar yang tak ternilai harganya, sehingga mahasiswa dapat melakukan upaya elaborasi wacana, pengkajian atas segala kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat dan sekaligus melakukan upaya pembelaan secara langsung.
Peran yang juga bisa dimainkan oleh mahasiswa adalah potensi ilmu pengetahuan yang dimiliki, diarahkan pada penemuan-penemuan baru melalui penelitian-penelitian secara mendalam dan hasil penemuan–penemuan baru dalam bentuk karya inovatif tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung. Selain itu mahasiswa juga dapat langsung terjun ketengah masyarakat baik dalam bentuk pendampingan ataupun bersama–sama masyarakat melakukan perubahan dan pembaharuan yang berguna bagi masayarakat.
Akankah semua cita ideal ini dapat tercapai kalau tidak ada kesadaran dalam diri mahasiswa untuk melakukan perubahan dalam diri sendiri.

Hidup Mahasiswa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!